Coded Modulation Systems is an introduction to the
subject of coded modulation in digital communication. It is designed for
classroom use and for anyone wanting to learn the ideas behind this
modern kind of coding. Coded modulation is signal encoding that takes
into account the nature of the channel over which it is used.
Traditional error correcting codes work with bits and add redundant bits
in order to correct transmission errors. In coded modulation,
continuous time signals and their phases and amplitudes play the major
role. The coding can be seen as a patterning of these quantities. The
object is still to correct errors, but more fundamentally, it is to
conserve signal energy and bandwidth at a given error performance. The
book divides coded modulation into three major parts. Trellis coded
modulation (TCM) schemes encode the points of QAM constellations;
lattice coding and set-partition techniques play major roles here.
Continuous-phase modulation (CPM) codes encode the signal phase, and
create constant envelope RF signals. The partial-response signaling
(PRS) field includes intersymbol interference problems, signals
generated by real convolution, and signals created by lowpass filtering.
In addition to these topics, the book covers coding techniques of
several kinds for fading channels, spread spectrum and repeat-request
systems. The history of the subject is fully traced back to the
formative work of Shannon in 1949. Full explanation of the basics and
complete homework problems make the book ideal for self-study or
classroom use.
Sumber: http://www.springer.com/engineering/signals/book/978-0-306-47279-4
Tampilkan postingan dengan label Sistem Modulasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Modulasi. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Mei 2012
MODULATION SYSTEMS
Minggu, 27 Mei 2012
Space Vector Modulation = Modulasi Vektor Ruang (SVM)
30
Apr
Namun modulasi yang satu ini, adalah jenis modulasi yang dipopulerkan di bidang Power Electronics. Sistem modulasi SVM ini banyak dikembangkan untuk kepentingan switching baik itu pada sistem inverter (DC-AC) maupun rectifier (DC-DC).
Teknik modulasi SVM adalah jenis modulasi lembar pulsa (PWM) yang sampai saat ini diketahui paling baik. Teknik SVM akan dapat mengoptimalkan 15% lebih baik DC supply dan dengan harmonik yang lebih rendah dibanding teknik modulasi Sinusoida PWM (SPWM).
Untuk lebih meningkatkan performance-nya ada banyak penelitian untuk mengoptimalkan mekanisme penentuan sektor dan perhitungan firing time dan konversinya ke sinyal switching baik itu untuk implementasi dengan mikrokontroler, Digital Signal Processor (DSPI dan Field Programmbale Gate Array (FPGA). Saat ini juga banyak dikembangan modulasi SVM ini untuk sistem multilevel dan multiphase. Kehebatan sistem SVM pada sistem multilevel atau sistem multiphase dengan metode Fractal dan Matriks Konverter sulit ditandingi sistem modulasi lanjut lainya, baik itu modulasi trapezoidal, modulasi staircase, modified SPWM, dll.
Karena begitu powerful-nya, teknik SVM ini banyak diteliti dan dikembangkan pada sistem kendali skalar (v/f) dan juga sistem kendali vektor (Field Oriented Control (FOC) dan Direct Torque Control (DTC)). Banyak aplikasi sistem kendali di bidang militer, transportasi air, udara dan darat, robotic dll untuk kepentingan power electronics dan electric drives menggunakan sistem modulasi SVM ini.
Sumber: http://blog.uad.ac.id/tole/2009/04/space-vector-modulation-modulasi-vektor-ruang-svm/
Aplikasi Sistem Kontrol Modulasi Pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Sistem kontrol modulasi yang paling penting pada sebuah pembangkit
listrik tenaga uap adalah sistem kontrol pada boiler. Tujuannya adalah
untuk mengatur masuknya bahan bakar ke dalam furnace agar sesuai dengan
beban listrik yang diminta, serta menjaga parameter-parameter kritis
seperti tekanan uap, temperatur uap, level air di dalam drum, supaya
tetap sesuai dengan desain boiler tersebut.
Sistem Kontrol Boiler
Bahan bakar (seperti batubara) dibakar di dalam furnace untuk menghasilkan uap air yang selanjutnya menggerakkan sudu-sudu turbin. Putaran rotor turbin sekaligus memutar rotor generator yang selanjutnya membangkitkan energi listrik dengan besaran tertentu.
Pembangkit listrik adalah pabrik yang unik. Dimana hasil produksi pabriknya (yaitu listrik) pada saat itu juga secara real-time langsung digunakan oleh konsumennya. Selain itu, besar megawatt yang dihasilkan oleh pembangkit listrik juga secara real-time, sama persis dengan kebutuhan konsumen, tidak lebih dan tidak kurang.
Pembangkit listrik tidak dapat mengatur besar konsumsi listrik yang ada. Justru pembangkit listrik lah yang secara fleksibel harus dapat menyesuaikan beban listrik yang ada. Konsumen dapat dengan “semaunya sendiri” menggunakan listrik, dan pembangkit listrik lah yang harus menyediakan kebutuhan tersebut.
Jika terjadi perbedaan nilai antara beban listrik dari konsumen dengan listrik yang dihasilkan oleh pembangkit, akan menyebabkan perubahan frekuensi listrik yang berbeda dengan yang seharusnya. Di Indonesia besar frekuensi listrik standard adalah 50Hz, yang berarti putaran generator yaitu sebesar 3000rpm. Pada saat beban listrik lebih besar daripada listrik yang dihasilkan oleh pembangkit, maka nilai frekuensi akan lebih rendah daripada 50Hz. Sedangkan jika beban listrik lebih rendah daripada yang dihasilkan oleh pembangkit, besar frekuensi listrik akan lebih besar daripada 50Hz.
Sistem kontrol yang kompleks digunakan oleh pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik konsumen secara “real-time“. Secara umum sistem kontrol permintaan beban listrik (load demand) pada pembangkit listrik dibagi menjadi tiga, yaitu Boiler Follow, Coordinate Control, dan Turbine Follow.
Boiler Follow
Sistem kontrol ini sudah dikenal dan diterapkan sejak awal-awal penerapan pembangkit listrik tenaga uap. Pada kontrol ini, sistem turbin dan boiler berada pada dua skema kontrol yang berbeda. Pada saat permintaan beban listrik dengan besar tertentu muncul, sinyal tersebut digunakan sebagai input pada sistem kontrol turbin uap. Valve kontrol yang men-supply uap air ke dalam turbin membuka dengan besar tertentu sesuai dengan sinyal kebutuhan beban listrik yang diterima. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan tekanan dan debit uap air yang dialirkan ke dalam turbin. Sensor tekanan dan debit uap air membaca terjadinya error set point, yang artinya tekanan dan debit uap tidak sesuai dengan nilai set point yang telah ditentukan. Sinyal error tersebut menjadi sinyal input bagi boiler, untuk menambah atau mengurangi tekanan uap air dengan jalan menambah atau mengurangi proses pembakaran di dalam furnace. Sedangkan error set point pada debit uap, akan dikompensasi oleh jumlah air (feedwater) yang masuk ke dalam boiler.

Kelebihan dari sistem kontrol ini adalah respons yang cepat terhadap perubahan beban listrik. Alasan pertama yaitu karena valve kontrol uap air masuk ke turbin langsung merespons setiap terjadinya perubahan beban listrik, dan alasan yang kedua adalah karena boiler yang juga bersifat sebagai reservoir energi panas yang dapat digunakan pada saat terjadi perubahan kebutuhan uap air. Namun di sisi lain, kekurangan dari sistem kontrol ini adalah akan terjadi perubahan sesaat spesifikasi uap air (tekanan dan debit) yang akan masuk ke turbin uap. Hal ini beresiko timbulnya kondensasi uap air yang tentu akan berbahaya bagi sudu-sudu turbin uap.
Coordinate Control
Prinsip dari sistem kontrol ini adalah dengan menggunakan sinyal input kebutuhan beban listrik sebagai sinyal feedforward ke sistem kontrol boiler dan turbin secara paralel. Tujuannya adalah untuk lebih meminimalisir terjadinya interaksi antara variabel-variabel kontrol boiler dengan turbin, serta dapat lebih simultan mengontrol besar pembakaran pada furnace dan besar bukaan valve kontrol turbin untuk setiap perubahan beban listrik.

Sinyal beban listrik yang masuk ke dalam sistem kontrol koordinat menjadi menjadi sinyal input untuk mengatur besar pembakaran di boiler dan besar bukaan valve kontrol uap air pada turbin. Sistem kontrol koordinat merupakan sistem close-loop, yang artinya ada beberapa parameter yang digunakan sebagai sinyal balik masuk ke sistem kontrol untuk digunakan sebagai parameter kontrol proses agar selalu sesuai dengan perintah kontrol. Sinyal balik yang digunakan antara lain adalah parameter-parameter kualitas uap air yang keluar dari boiler (tekanan, debit, temperatur, dan lain sebagainya) serta besar MegaWatt yang dihasilkan oleh generator. Sinyal-sinyal input balik tersebut, digunakan kembali oleh sistem kontrol sebagai sinyal input untuk meminimalisir set-point error.
Turbine Follow
Mode kontrol beban listrik terakhir adalah sistem kontrol Turbine Follow. Kontrol ini kebalikan dari sistem kontrol Boiler Follow. Sinyal kebutuhan beban listrik dikirimkan ke sistem kontrol boiler untuk selanjutnya diatur besar pembakaran di dalamnya agar sesuai dengan kebutuhan, dan besar bukaan valve kontrol uap air pada turbine sesuai dengan besar tekanan pada pipa uap air.

Sistem kontrol Turbine Follow memiliki respons yang lambat pada saat terjadinya perubahan beban listrik. Namun sistem kontrol ini dibutuhkan oleh PLTU pada saat terjadi masalah pada boiler, misalnya terjadi gangguan pada salah satu dari dua force draft fan sehingga proses pembakaran harus turun ke 50% kemampuan maksimal. Di saat inilah mode kontrol menggunakan Turbine Follow.
Sumber: http://onnyapriyahanda.com/aplikasi-sistem-kontrol-modulasi-pada-pembangkit-listrik-tenaga-uap/
Sistem Kontrol Boiler
Bahan bakar (seperti batubara) dibakar di dalam furnace untuk menghasilkan uap air yang selanjutnya menggerakkan sudu-sudu turbin. Putaran rotor turbin sekaligus memutar rotor generator yang selanjutnya membangkitkan energi listrik dengan besaran tertentu.
Pembangkit listrik adalah pabrik yang unik. Dimana hasil produksi pabriknya (yaitu listrik) pada saat itu juga secara real-time langsung digunakan oleh konsumennya. Selain itu, besar megawatt yang dihasilkan oleh pembangkit listrik juga secara real-time, sama persis dengan kebutuhan konsumen, tidak lebih dan tidak kurang.
Pembangkit listrik tidak dapat mengatur besar konsumsi listrik yang ada. Justru pembangkit listrik lah yang secara fleksibel harus dapat menyesuaikan beban listrik yang ada. Konsumen dapat dengan “semaunya sendiri” menggunakan listrik, dan pembangkit listrik lah yang harus menyediakan kebutuhan tersebut.
Jika terjadi perbedaan nilai antara beban listrik dari konsumen dengan listrik yang dihasilkan oleh pembangkit, akan menyebabkan perubahan frekuensi listrik yang berbeda dengan yang seharusnya. Di Indonesia besar frekuensi listrik standard adalah 50Hz, yang berarti putaran generator yaitu sebesar 3000rpm. Pada saat beban listrik lebih besar daripada listrik yang dihasilkan oleh pembangkit, maka nilai frekuensi akan lebih rendah daripada 50Hz. Sedangkan jika beban listrik lebih rendah daripada yang dihasilkan oleh pembangkit, besar frekuensi listrik akan lebih besar daripada 50Hz.
Sistem kontrol yang kompleks digunakan oleh pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik konsumen secara “real-time“. Secara umum sistem kontrol permintaan beban listrik (load demand) pada pembangkit listrik dibagi menjadi tiga, yaitu Boiler Follow, Coordinate Control, dan Turbine Follow.
Boiler Follow
Sistem kontrol ini sudah dikenal dan diterapkan sejak awal-awal penerapan pembangkit listrik tenaga uap. Pada kontrol ini, sistem turbin dan boiler berada pada dua skema kontrol yang berbeda. Pada saat permintaan beban listrik dengan besar tertentu muncul, sinyal tersebut digunakan sebagai input pada sistem kontrol turbin uap. Valve kontrol yang men-supply uap air ke dalam turbin membuka dengan besar tertentu sesuai dengan sinyal kebutuhan beban listrik yang diterima. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan tekanan dan debit uap air yang dialirkan ke dalam turbin. Sensor tekanan dan debit uap air membaca terjadinya error set point, yang artinya tekanan dan debit uap tidak sesuai dengan nilai set point yang telah ditentukan. Sinyal error tersebut menjadi sinyal input bagi boiler, untuk menambah atau mengurangi tekanan uap air dengan jalan menambah atau mengurangi proses pembakaran di dalam furnace. Sedangkan error set point pada debit uap, akan dikompensasi oleh jumlah air (feedwater) yang masuk ke dalam boiler.
Skema Sistem Kontrol Boiler Follow
Kelebihan dari sistem kontrol ini adalah respons yang cepat terhadap perubahan beban listrik. Alasan pertama yaitu karena valve kontrol uap air masuk ke turbin langsung merespons setiap terjadinya perubahan beban listrik, dan alasan yang kedua adalah karena boiler yang juga bersifat sebagai reservoir energi panas yang dapat digunakan pada saat terjadi perubahan kebutuhan uap air. Namun di sisi lain, kekurangan dari sistem kontrol ini adalah akan terjadi perubahan sesaat spesifikasi uap air (tekanan dan debit) yang akan masuk ke turbin uap. Hal ini beresiko timbulnya kondensasi uap air yang tentu akan berbahaya bagi sudu-sudu turbin uap.
Coordinate Control
Prinsip dari sistem kontrol ini adalah dengan menggunakan sinyal input kebutuhan beban listrik sebagai sinyal feedforward ke sistem kontrol boiler dan turbin secara paralel. Tujuannya adalah untuk lebih meminimalisir terjadinya interaksi antara variabel-variabel kontrol boiler dengan turbin, serta dapat lebih simultan mengontrol besar pembakaran pada furnace dan besar bukaan valve kontrol turbin untuk setiap perubahan beban listrik.
Sistem Kontrol Koordinat (Coordinate Control)
Sinyal beban listrik yang masuk ke dalam sistem kontrol koordinat menjadi menjadi sinyal input untuk mengatur besar pembakaran di boiler dan besar bukaan valve kontrol uap air pada turbin. Sistem kontrol koordinat merupakan sistem close-loop, yang artinya ada beberapa parameter yang digunakan sebagai sinyal balik masuk ke sistem kontrol untuk digunakan sebagai parameter kontrol proses agar selalu sesuai dengan perintah kontrol. Sinyal balik yang digunakan antara lain adalah parameter-parameter kualitas uap air yang keluar dari boiler (tekanan, debit, temperatur, dan lain sebagainya) serta besar MegaWatt yang dihasilkan oleh generator. Sinyal-sinyal input balik tersebut, digunakan kembali oleh sistem kontrol sebagai sinyal input untuk meminimalisir set-point error.
Turbine Follow
Mode kontrol beban listrik terakhir adalah sistem kontrol Turbine Follow. Kontrol ini kebalikan dari sistem kontrol Boiler Follow. Sinyal kebutuhan beban listrik dikirimkan ke sistem kontrol boiler untuk selanjutnya diatur besar pembakaran di dalamnya agar sesuai dengan kebutuhan, dan besar bukaan valve kontrol uap air pada turbine sesuai dengan besar tekanan pada pipa uap air.
Sistem Kontrol Turbine Follow
Sistem kontrol Turbine Follow memiliki respons yang lambat pada saat terjadinya perubahan beban listrik. Namun sistem kontrol ini dibutuhkan oleh PLTU pada saat terjadi masalah pada boiler, misalnya terjadi gangguan pada salah satu dari dua force draft fan sehingga proses pembakaran harus turun ke 50% kemampuan maksimal. Di saat inilah mode kontrol menggunakan Turbine Follow.
Sumber: http://onnyapriyahanda.com/aplikasi-sistem-kontrol-modulasi-pada-pembangkit-listrik-tenaga-uap/
Minggu, 06 Mei 2012
Perbandingan Kinerja Modulasi Adaptif Dan Modulasi QPSK Pada Sistem MC-CDMA
Edisi : Volume 12 No. 2, Agustus 2011
Oleh : Achmad Ansori ( Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember )
Jumlah pembaca : 88
Abstraksi :
Keyword: Modulasi adaptif, MC-CDMA.
Download:
Abstraksi: [ pdf ] [ doc ] [ ps ]
Sumber: http://teknika.jurnal.unesa.ac.id/90_654/perbandingan-kinerja-modulasi-adaptif-dan-modulasi-qpsk-pada-sistem-mccdma
Abstraksi :
Abstrak
Teknologi layanan
nirkabel mengalami perkembangan yang sangat cepat sehingga dibutuhkan teknik
modulasi yang dapat mendukung perkembangan tersebut. Berdasarkan pada sebuah
penggabungan dari teknik CDMA dan OFDM, MC-CDMA tampaknya menjadi teknik
Multiple Access yang mampu mendukung pelayanan multimedia di masa yang akan
datang. Sedangkan untuk menghasilkan kinerja sistem yang lebih baik pada
MC-CDMA dapat dilakukan dengan cara memilih modulasi yang digunakan berdasarkan
pada kondisi kanalnya. Proses ini dikenal sebagai modulasi adaptif.
Pada penelitian ini,
dibahas penggunaan modulasi adaptif pada sistem MC-CDMA. Metode ini dibuat
untuk membandingkan sistem MC-CDMA yang menggunakan modulasi adaptif dengan
sistem MC-CDMA yang menggunakan modulasi QPSK.
Dari
simulasi diketahui bahwa keunggulan sistem MC-CDMA menggunakan modulasi adaptif
dapat meningkatkan unjuk kerja sistem. Hal ini dapat dilihat dari nilai BER
(Bit Error Rate) untuk modulasi adaptif lebih baik daripada sistem yang
menggunakan modulasi QPSK.
Keyword: Modulasi adaptif, MC-CDMA.
Download:
Abstraksi: [ pdf ] [ doc ] [ ps ]
Sumber: http://teknika.jurnal.unesa.ac.id/90_654/perbandingan-kinerja-modulasi-adaptif-dan-modulasi-qpsk-pada-sistem-mccdma
Sistem Modulasi Gelombang Radio
Sistem Modulasi Gelombang Radio. Ada
berbagai cara untuk penyaluran informasi kepada pihak lain yang
masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri. Informasi yang akan
dikirimkan terdiri dari berbagai jenis, misalnya : suara manusia, sinyal telegrap, sinyal televisi, sinyal multiplex, telephone, faksimile, dst.
Dalam Teknik Sistem Modulasi Gelombang
Radio ini, semua jenis materi informasi ini, misalnya suara manusia,
sebuah foto atau televisi, pertama-tama harus diubah dalam bentuk
listrik dengan menggunakan microphone atau telekamera, agar materi ini
dapat dibawa oleh gelombang radio. Suatu sistem komunikasi yang lengkap
terdiri dari sumber informasi, sumber RF, modulator, saluran RF
(baik tingkat pemancar maupun tingkat penerima, antena, saluran
transmisi dan sebagainya), demodulator dan pemakai informasi. Sistem tersebut bekerja kalau pemakai informasi menerima informasi sumber dengan keandalan yang dapat diterima.
Tujuan perencanaannya adalah Membangun
suatu sistem kerja yang murah sesuai dengan peraturan-peraturan yang
membatasi seperti daya pancar, tinggi antena dan lebar pita. Pemilihan
jenis modulasi merupakan bagian yang penting dari sebuah perencanaan
Sistem Komunikasi karena Skema Modulasi / Demodulasi berbeda-beda dalam
hal harga, lebar pita, penolakan interferensi, daya yang diperlukan dan
sebagainya.
Pertanyaannya adalah bagaimana membawa
informasi yang telah dirubah dalam bentuk listrik ke dalam gelombang
radio, atau bagaimana cara menjalin informasi yang telah berbentuk
listrik ke dalam gelombang radio. Cara penumpangan informasi pada
gelombang radio ini dinamakan Modulasi atau Sistem Modulasi.
Untuk memahami suatu sistem modulasi
atau proses modulasi, sangat bermanfaat untuk memandang Modulator dengan
dua masukan dan satu keluaran. Ke dalam satu masukan satu mengalir
sinyal pemodulasi vm (t), sedangkan masukan yang
lain dihubungkan ke osilator pembawa yang menghasilkan suatu tegangan
sinusoidal dengan amplitudo dan frekuensi tetap fc. Keluarannya merupakan bentuk gelombang termodulasi yang amplitudonya A(t) atau sudut W(t) atau dua-duanya, dikendalikan oleh vm(t).
F(t) = A(t) cos [Wct +Wm(t)] = A(t) cos Q(t)
Dalam Modulasi Amplitudo (AM) selubung pembawa A(t) diubah-ubah sedangkan Wct tetap. Dalam modulasi sudut A(t) tetap dan sinyal pemodulasi mengendalikan Q(t). Dalam Modulasi Sudut mungkin Modulasi Frekuensi (FM) atau Modulasi Fase (PM), tergantung pada hubungan antara sudut Q(t) dan
sinyal pemodulasi. Karena antara FM dan PM memiliki karakteristik
sinyal keluaran yang sama sehingga untuk membedakan apakah suatu
perangkat Modulasi Sudut menggunakan sistem FM atau PM harus ditinjau
langsung dari sistem rangkaiannya.
Walaupun bentuk gelombang pada teknik
atau sistem modulasi ini dapat disebut sebagai gelombang sinus
termodulasi, namun tidak merupakan sinusoidal frekuensi tunggal saat ada
modulasi (saat termodulasi). Kalau A(t) atau Qm(t) berubah menurut waktu, maka spektrum F(t) akan meliputi lebar pita yang ditentukan baik oleh sinyal pemodulasi dan jenis modulasi yang digunakan.
Jenis-Jenis Modulasi :
Cara-cara modulasi atau Sistem Modulasi
diperlihatkan pada daftar di bawah ini. Secara garis besar dapat dibagi
menjadi modulasi analog dan modulasi digital. Modulasi Continuous
Parametric berarti modulasi amplitudo atau modulasi sudut.
Ini berarti bahwa pada sistem atau
teknik modulasi pulsa parametrik, amplitudo dari pulsa-pulsa atau
sejenisnya dirubah secara analog. Modulasi Kode Pulsa (PCM) adalah cara modulasi pengubahan AD (Analog to Digital), sesuai dengan ketentuan yang tetap.
Incoming search terms:
- gelombang radio
- sistem modulasi
- semua tentang gelombang radio
- sistem modulasi harga
- jenis modulasi
- sistem modulasi fm microphone
- sinyal pemodulasi
- modulasi pada sistem komunikasi radio penerima
- modulasi
- materi tentang gelombang radio
Langganan:
Postingan (Atom)